Menolak Diajak Bercinta 2 Kali, PSK ini Dibunuh setelah Berhubungan Intim


Pembunuhan di Apartemen Puncak Permai Tower A terungkap. Polisi tidak butuh waktu lama untuk menangkap pelaku pembunuhan tersebut. Aksi pembunuhan itu terjadi setelah korban dan pelaku berhubungan intim. ’’Motifnya, sakit hati,’’ kata Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho kemarin (23/4).

Pelaku pembunuhan tersebut adalah Ahmad Junaidi Abdillah. Pemuda 20 tahun itu dijemput petugas di tempat kerjanya di Sawahan. Junaidi mengaku mengenal korban dari sebuah aplikasi media sosial (medsos). Korban bernama Ika Puspita Sari dikenal sebagai perempuan pemuas nafsu pria hidung belang.

Dia melayani tamunya di apartemen yang ditinggali sejak 3 April lalu.

Junaidi yang tertarik lantas mengajaknya bertransaksi. Ika pun mematok tarif Rp 500 ribu untuk sekali berhubungan intim. Jika dua kali, tarifnya mencapai Rp 800 ribu. ’’Harga itu sempat ditawar tersangka,’’ ujar perwira dengan tiga melati di pundak tersebut.

Junaidi, lanjut dia, bersedia kalau tarif yang harus dibayar Rp 500 ribu untuk dua kali berhubungan intim. Namun, korban tidak memberi jawaban gamblang. Ika hanya meminta Junaidi datang kalau memang serius.

Jawaban itu dianggap pelaku sebagai kesepakatan. Junaidi mendatangi apartemen yang ditinggali korban. Ika menjemputnya di lobi apartemen. Kamera CCTV menyorot keduanya berjalan beriringan pada pukul 03.30. Ika mengajak pelaku ke kamar 857 yang ditinggalinya. Mereka lantas berhubungan intim. Nah, masalah terjadi setelahnya.

Junaidi ingin kembali berhubungan intim. Namun, permintaan tersebut ditolak korban. Ika mengatakan tidak mau. Perempuan 36 tahun itu juga meminta bayaran Rp 500 ribu. Jawaban tersebut membuat pelaku tersinggung. Junaidi sakit hati. Warga Sampang yang indekos di Sawahan itu menganggap korban telah ingkar janji.

Sandi mengungkapkan, korban dan pelaku sempat cekcok. Junaidi selanjutnya gelap mata. Dia melihat pisau dapur di dekatnya. Karyawan pabrik keripik usus tersebut spontan mengambilnya. ’’Dipakai untuk menyerang korban,’’ terangnya.


Ika tidak tinggal diam. Perempuan asal Semarang itu melawan. Namun, tenaganya kalah kuat dengan pelaku. Junaidi tiga kali menebas leher Ika. Dalam kondisi terluka, korban sempat mengejar pelaku yang kabur. Namun, Ika akhirnya terkapar di depan lift apartemen.

Sandi merasa lega lantaran kasus pembunuhan tersebut bisa terungkap kurang dari sehari. Dia mengapresiasi kinerja jajarannya yang gigih mencari petunjuk. ’’Membuktikan kehadiran polisi di tengah masyarakat. Meski sedang terjadi pandemi virus korona, kami juga melaksanakan penindakan hukum,’’ tutur peraih Adhi Makayasa Akpol 1995 tersebut.

Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran menyatakan, titik terang untuk mengungkap pelaku pembunuhan didapat sejak olah TKP. Di apartemen korban, pihaknya menemukan beberapa puntung rokok dan helai rambut.

’’Indikasinya, korban tidak sendiri dan sempat terjadi perkelahian,’’ ungkapnya.

Dugaan itu lantas didalami. Jajarannya memeriksa rekam jejak komunikasi korban dan memeriksa CCTV apartemen. ’’Korban ternyata memang membawa seorang pria ke dalam unit yang ditinggali,’’ jelasnya. Junaidi yang teridentifikasi akhirnya diringkus.

Sudamiran menuturkan, dari proses otopsi, korban diketahui tewas karena kehabisan darah. Ika menderita tiga luka sayatan. Pertama, luka sekitar 15 sentimeter di leher bagian tengah. Luka lainnya di leher sebelah kanan. Panjangnya lebih pendek daripada luka di tengah, tetapi lebih dalam. ’’Luka selanjutnya di samping kiri hidung korban. Ada seperti tusukan,’’ papar polisi dengan dua melati di pundak tersebut.

Di bagian lain, korban dikenal sebagai perempuan yang ramah di apartemen. Vita Sari, salah seorang pegawai minimarket di apartemen, mengungkapkan bahwa korban sering berbelanja di tempatnya. Ika biasa membeli sembako. Mulai beras hingga telur. Menurut Vita, korban adalah sosok yang baik dan murah senyum. ’’Penampilannya sangat sederhana kok,’’ ucapnya. ’’Seperti perempuan desa. Biasa banget penampilannya,’’ tambahnya.

Teguh, pemilik warung makan di sekitar apartemen, mengatakan hal yang sama. Dia beberapa kali diberi rokok oleh korban. Selain rokok, korban sering memberi sembako. ’’Saya pernah diberi beras atau gula. Kalau ada kembalian uang saat bayar makan, saya disuruh ngambil uang kembaliannya,’’ katanya.